Beranda

  • Beranda

Zuhra Asra | Lovid this life

    • Home
    • Traveling
    • Lifestyle
    • Culinary
    • Health
    • Kuah Pliek U
    • Review




    Dering nada pesan berbunyi, ku buka handphone melihat siapa yang mengirim pesan larut malam begini. “Salam dora, besok datang ya ke wisuda aku ”. #BLEEEP

    Ada rasa senang membaca pesan dari raisa, hebat bisa lulus tepat waktu pikirku. Seketika di sudut lain, bagian sendi-sendi tulang terdalam menjerit lemas, sorak-sorak dalam jiwa.  Kapan? Kamu kapan dora? Kapan?


    Undangan wisuda terus berdatangan, sampai akhirnya aku harus berlapang dada menerima undangan dari dua sahabatku. 4 tahun lebih hampir setiap denting waktu dilalui bersama, kini  harus merelakan mereka melangkah selangkah kedepan. Lalu aku? Aku masih disini bersama milyaran harapan, seperti biasa aku akan tetap melangkah. Mungkin langkah kita saat ini terpisah oleh jarak, tapi aku yakin saut-saut kebahagian dan sorotan cahaya sedang menanti kedatangan kita. 


    Jika kalian penasaran ingin tahu kapan ku wisuda, tidak usah khawatir kawan. Aku pun tak ingin membuat kalian risau dan menunggu terlalu lama. Aku pasti akan segera menjawabnya. Siapa yang tidak menginginkan hari itu, setiap mahasiswa tentu mengharapkannya. Melihat kalian, senang sekali rasanya, memakai pakaian rapi nan cantik berbungkus baju toga. Wah aku jadi ingin cepat-cepat wisuda. Selamat untuk teman dan sahabatku serafael dan anggita, semoga kalian dapat menjadi sarjana yang berdaya guna bagi agama, bangsa dan keluarga.


    Continue Reading
    sumber foto : sujj4da [dot] blogspot [dot] com
    Adakalanya ngotak-atik website dan blog orang bisa mendatangkan banyak manfaat. Kita bisa dapat informasi baru, belajar pengalaman baru dari para blogger, bisa nambah inspirasi dan.... dan... Pokoknya banyak dah, selain  pengetahuan juga nambah ingat sama Allah. Bak ilmu padi, kian berisi kian merunduk, semakin banyak kita tahu kekuasaan Nya semakin
    nyata betapa kecil dan tak ada apa-apanya manusia ini dibandingkan dengan ilmu Allah swt.

    Hari ini, setelah berkelana kesana kemari, mencari alamat blogger  yang bisa ku singgahi. Akhirnya ku terhenti di salah satu kantor media Islami, kubuka dan kuperhatikan sekelilingnya. Penghuni dan se-isi rumahnya tampak ramai, tapi tidak membuat ku sesak berada didalamnya.  

    Ada beberapa sajian yang menarik mata, menu sajian itu terus dan terus mengajakku untuk melirik menu yang lain, seperti candu aku terus melahapnya. Ada satu dua tiga tulisan yang ku simpan, menurutku isinya sarat makna dan kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena itu aku ingin berbagi cerita ini, semoga bermanfaat.

                                                       ****
    Ini kisah lama. Lebih dari sepuluh tahun lalu kejadiannya. Saya, Rudi, dan Adi menjadi instruktur pesantren kilat yang diadakan sebuah SMU favorit di Jakarta. Acara itu diadakan di sebuah vila kawasan Puncak.

    Setelah acara selesai kami bertiga tidak ikut rombongan pulang ke Jakarta. Saya dan Adi memutuskan ikut Rudi melakukan survei. Rencananya Rudi akan mengadakan Tafakur Alam untuk lingkup fakultas tempatnya kuliah. Cibodas, kaki Gunung Gede, tempat yang diincar. Jadi, kami bertiga melanjutkan perjalanan ke Cibodas.

    Sampai di Persimpangan Cipanas-Cibodas kami turun. Hari masih pagi benar. Rencananya kami sarapan. Di situ ada warung bubur ayam. Enak dan murah. Cocok dengan isi kantong kami. Setelah dihitung oleh Rudi, imam safar kami, uang kami hanya cukup untuk sarapan bubur dan ongkos pulang.

    Memang jika ada acara keluar kota, kami biasa berjalan berdua atau bertiga.  Kami memilih salah seorang sebagai imam perjalanan. Uang dikumpulkan. Dengan begitu yang kurang bisa ditutupi oleh yang berlebih. Sayangnya, di antara kami bertiga saat itu tidak ada yang berkelapangan. Masing-masing hanya membawa uang pas-pasan. Untuk ongkos angkot dari Persimpangan Cipanas-Cibodas ke Cibodas pun kami tidak punya. Jadi, setelah sarapan bubur nasi kami harus jalan kaki ke tempat tujuan.

    Pagi. Dingin. Lapar. Kami harus jalan kaki ke Cibodas. Warung bubur yang kami incar tidak buka. Perut keoncongan. Kami berjalan, berjalan, dan berjalan. Sepanjang jalan kami berdzikir. Berdzikir akan menanbah kekuatan, begitu kata seorang ustadz. Akhirnya, tiba juga kami di gerbang Cibodas.

    Dengan uang jatah sarapan kami beli salak. Jadilah kami sarapan salak. Setelah itu kami ke areal perkemahan untuk melihat-lihat tempat yang cocok untuk base camp acara tafakur alam nanti. Tak lupa kami cek track yang kira-kira menarik untuk dilintasi. Kami memilih jalan ke arah naik Gunung Gede. Sayang, kami tak punya uang untuk membayar tiket masuk. Artinya, kami mencari jalan lain. Melintasi lembah, menerabas semak-semak, mengikuti bekas aliran air hujan, dan menyusuri lereng bukit. Akhirnya, kami menemukan jalan utama ke Gunung Gede.

    Kami tentukan tempat-tempat yang pas untuk pos pemberhentian nantinya. Akhir, perjalanan adalah telaga. Tentu saja kami mengecek hingga ke sana. Alhamdulillah, energi dari salak yang kami makan tadi pagi cukup menggerakan kaki kami hingga ke sana. Kami shalat. Jama’ qashar ta’khir. Usai shalat kami dapati kami adalah rombongan terakhir di sana. Sebelumnya ada rombongan remaja keturunan Cina. Mereka telah turun. Asyik sekali mereka berjalan sambil mengunyah coklat.

    Saya berkata ke Rudi dan Adi, memang paling enak makan coklat di cuaca dingin begini. Coklat itu kalori banyak. Tentu tubuh kita tidak akan kedinginan. Ya, begitulah orang kalau tidak mampu yang sedang kedinginan dan perut keroncongan. Cuma bisa berangan-angan.

    Setelah cukup melihat-lihat kami pun turun. Tapi, belum jauh kami melangkah, ajaib, ada tiga batang coklat tergeletak di tanah! Subhanallah! Kami celingukan. Mencari-cari siapa pemilik coklat-coklat itu. Kami yakin betul tidak ada orang lain. Hanya kami bertiga. Mungkinkah ini coklat dari langit?

    Alhamdulillah, kami dapat mengisi perut kosong kami dengan coklat itu. Masing-masing satu batang. Alhamdulillah. Dengan tambahan tenaga dari coklat itu kami berjalan hingga ke Jalan Raya Cipanas. Kami menunggu bis ke Jakarta. Lama tak kunjung datang. Hujan turun. Kami basah. Dingin. Tak ada bis ke Jakarta. Hari Ahad semua bis Bandung tidak lewat Puncak. Semua dialihkan ke jalur Sukabumi atau Purwakarta. Tapi, kami tak putus asa. Sambil sekali-kali mengacungkan jari ke mobil-mobil pribadi berplat Jakarta, kami berjalan ke arah Puncak.

    Saya berkata ke teman-teman, alangkah indahnya kalau ada bapak-bapak tanya ke kita, mau kemana dek, kita jawab ke Jakarta. Tidak ada bis. Sudah nginep saja di vila bapak, besok baru ke Jakartanya. Wah, sedap! Begitu kata saya.

    Rudi dan Adi tertawa. Menertawakan angan-angan saya yang tak mungkin itu. Tapi, belum berapa jauh kami melangkah tiba-tiba ada suara menegur kami. Datang dari seorang pemuda kira-kira usianya tiga tahun di atas kami. Ia menanyakan persis seperti yang saya angan-angankan. “Tidak ada bis ke Jakarta. Sudah, nginep saja di vila kakak saya,” begitu katanya. Subhanallah!

    Betapa banyak kemurah yang Allah berikan kepada kami. Padahal, tidak kami memintanya secara sungguh-sungguh. Kami tidak berdoa secara khusus. Kami hanya berseloroh. Tapi, Allah memberinya lebih. Kami dapat makan malam gratis, salinan baju kering dan hangat, serta tempat tidur yang nyaman. Seperti itulah Allah menunjukkan keberadaannya kepada kami.
    Muhammad, Jakarta

    Note : ALLAh itu ada. Ia lebih dekat daripada urat nadi kita. Ia tahu jahir dan isi batin kita.  Ia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Memberi apa yang kita pinta, memberi apa-apa yang tidak kita pinta. 



    Sumber : https://www.islampos.com/coklat-dari-langit-2635/ 
    Continue Reading



    Yuuk jalan-jalan....
    Dua minggu lalu saya beserta sahabat saya melakukan perjalanan dari Sigli ke Banda Aceh. Usai acara dirumah langsung balik ke kota pelajar. Judulnya pulang ekpres, dua hari dikampung besoknya balik lagi ke Banda. Begitulah suka duka jika jarak antara rumah dengan tempat kuliah bisa ditempuh 2 setengah jam sampe 3 jam waktu perjalanan. Maunya pulang setiap ada acara, sebentar-bentar pulang kayak anak kampung orang kata. Lah iya emang benar saya anak kampung, anak emak dan abu. Disuruh pulang, saya pulang, apa coba alasan saya bantah permintaan orang rumah? 

    Ingin rasanya berlama-lama disana, merasakan kembali jadi anak rumah.  4 tahun lebih sudah hidup di perantauan, belum lagi nanti usai tamat kuliah. Sekarang, keinginan itu harus dipendam, mengingat tanggung jawab berjulukan mahasiswa akhir harus segera diakhiri. Pagi itu rencananya berangkat lebih awal supaya nanti bisa singgah ke TAHURA (Taman hutan raya) yang berlokasi di Saree -  Aceh Besar. Lama sudah ingin kesana, tempatnya selalu saya lintasi ketika pulang dan pergi dari kampung ke Banda tapi belum sekali pun menyempatkan diri untuk masuk ke TAHURA. Orang kata air terjun dan rumah pohonnya bagus dan alami.  Penasaran dah saya ingin lihat langsung.


    Dikarenakan urusan IRT belum selesai, jadwal keberangkatan pun terpaksa delay sampai shalat zuhur. Saat azan Ashar berkumandang kami tiba di lokasi wisata.  Di pintu masuk kami dihadang 2 petugas TAHURA, ngak diminta KTP ataupun STNK, mereka cuma tanya ada keperluan apa dek? 
    Usai memakirkan honda di tempat parkiran, kami berdua menuju posko petugas. Ternyata setiap pengunjung yang datang akan diberikan arahan serta penjelasan terlebih dahulu mengenai wahana dan beberapa peraturan yang harus dipatuhi ketika memasuki kawasan TAHURA.  Pengunjung juga dikenai uang distribusi 5000/orang.


    Nah, karena sudah memasuki waktu shalat Ashar, kami pun mampir ke mushalla untuk menunaikan shalat 4 rakaat. Segaarrrrrrrrr nyaaa air. Airnya langsung dari mata air pergunungan, ya wajar sajalah jika dinginnya begini. Syukur di mushalla ada mukenah, tapi jangan cium wanginya. wangi atau baunya ni?

    Untuk menemukan TAHURA ini sangat mudah, sebab lokasinya pas di pinggir jalan Banda Aceh - Medan. Jika dari Banda Aceh hanya butuh waktu 1 jam setengah atau 2 jam perjalanan untuk mencapai lokasi. Di  TAHURA kita bisa menikmati bermacam wahana wisata, lihat saja menunya di papan kayu ini.



    Tampaknya foto di atas tulisannya kurang jelas ya, oke saya sebutkan apa-apa saja tempat yang bisa dinikmati disini. 
    1. Taman bermain 
    2. taman anggrek 
    3. Arboretum 
    4. Jungle Tracking 
    5. Out Bond 
    6. Rest Area 
    7. Air terjun 
    8. Rumah  pohon 
    9. Camping Ground
    10.  Wisata Gajah
    11.  Kolam pemandian 
    12. Tanaman koleksi air 
    13. Koleksi tanaman buah
    14. Koleksi tanaman obat, dan ada juga sarana penunjang penelitian.
    Sayang, dari 14 menu diatas kami cuma bisa menyantap 2 tempat saja, rumah pohon dan taman bunga. Berhubung sisa waktu kami tidak banyak kami pun harus bergegas meninggalkan lokasi untuk melanjutkan perjalanan menuju Banda. 


    Meski singkat tapi sangat menyenangkan, lumayan untuk cuci mata sekaligus merilekskan pikiran. Rasanya perjalanan kali ini benar-benar plong, inilah liburan kali pertama setelah berletih-letih menghadapi sidang skripsi satu hari sebelum pulang. 
    #Legaa


    Suasana dari atas rumah pohon, foto ini saya ambil ketika  Al sedang membidik pengunjung yang dimintakan untuk difoto


    Oke!
    See you on my next trip  >_^


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me

    Tak ada kata terlambat untuk belajar, tak ada kata terlambat untuk berbuat baik, tidak ada kata terlambat untuk berubah

    [ Contact ]
    mynamedora25@gmail.com

    Google Facebook Twitter Instagram

    Popular Posts

    • Waspadai lipstik Bermerek tapi kw dan inilah ciri-cirinya
    • Bercermin dari Metamorfosis Kupu-kupu
    • Sejarah Masjid dan Tongkat Po Teumeureuhom di Pidie
    • Sepiring mie china, kuliner nikmat cuma tujuh ribu
    • Nostalgia Bersama Pelajaran IPA SD

    Arsip Blog

    • ▼  2018 (2)
      • ▼  September 2018 (1)
        • ASIAN GAMES 2018 DI INDONESIA BIKIN BANGGA
      • ►  April 2018 (1)
    • ►  2017 (11)
      • ►  October 2017 (2)
      • ►  September 2017 (1)
      • ►  April 2017 (5)
      • ►  March 2017 (1)
      • ►  February 2017 (1)
      • ►  January 2017 (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  April 2016 (1)
      • ►  January 2016 (2)
    • ►  2015 (30)
      • ►  November 2015 (2)
      • ►  October 2015 (2)
      • ►  September 2015 (4)
      • ►  August 2015 (2)
      • ►  July 2015 (2)
      • ►  June 2015 (1)
      • ►  May 2015 (3)
      • ►  March 2015 (5)
      • ►  February 2015 (3)
      • ►  January 2015 (6)
    • ►  2014 (9)
      • ►  May 2014 (1)
      • ►  April 2014 (8)

    Sahabat Blog

    Member of Agam Inong Blogger

    Member of Blogger Perempuan

    Member of Blogger Perempuan

    Aceh Blogger

    Waktu adalah Ibadah

    facebook Twitter instagram pinterest google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top