Beranda

  • Beranda

Zuhra Asra | Lovid this life

    • Home
    • Traveling
    • Lifestyle
    • Culinary
    • Health
    • Kuah Pliek U
    • Review



    Dulu, sewaktu masih duduk di bangku SD, senang rasanya bila baca buku IPA. Banyak ilmu lingkungan yang  saya dapat dari pelajaran ini. Ngak cuma isinya yang menarik dibaca, cover depan pun cukup sedaap dipandang. Maklum saja warna covernya lumayan soft, agak kepingki-pingkian, jadi kalo tersusun dalam lemari buku tuh biasanya paling mudah ketemu. Satu hal lagi yang paling menarik dari buku IPA SD, gambar yang tersajikan bagus-bagus dan juga full colour.  Untuk orang semacam saya, metode seperti ini nih cocok sekali, gambar memancing  untuk baca seluruh isinya. :D

    Ntah mengapa, hari ini terbayang-bayang pelajaran di SD dulu. Ngak nyangka sudah lama sekali masa itu berlalu, pelajaran pun banyak kabur dari ingatan. Ingin rasanya mengetahuinya lagi. Ada banyak yang ingin saya ketahui kembali, tentang ekosistem, rantai makanan, metamorfosis hewan dan fotosintesis pada tumbuhan, tentang tata surya yang meliputi matahari beserta planet-planet menakjubkan ciptaan Allah seperti planet yang kita tempati sekarang ini, planet saturnus pun tak kalah indahnya, dan juga komponen-komponen pada organ tubuh, terutama pada bagian mata. Syukur  zaman semakin canggih, ngak harus cari buku IPA kembali, cukup klik apa yang kita mau, semua informasi keluar bertebaran di layar monitor laptop.   

    Sambil membaca artikel pada blog penulis lain, saya coba menulis beberapa poin penting untuk teman-teman baca juga. Hitung-hitung untuk mengasah daya ingat dan mengerakkan saraf otot otak.

    Masih ingat apa itu Ekosistem? 

    Istilah Ekosistem pertama kali dipopulerkan oleh A.G Tansley (1935), menurutnya Ekosistem merupakan suatu unit ekologi (an ecological unit) yang didalamnya terdapat struktur dan fungsi. Struktur yang dimaksudkan dalam definisi ekosistem tersebut adalah berhubungan dengan keanekaragaman spesies, didalamnya ada habitat, tumbuhan dan binatang. atau dengan pengertian lain adalah adanya hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan non hayati yang membentuk sisitem ekolog. komponen ini saling berinteraksi dan pada akhirnya membentuk kesatuan yang teratur dan dinamis. dengan begitu, dalam ekosistem bisa saja terjadi suatu perubahan, suatu ketidakseimbangan baik itu besar maupun kecil yang faktor pemicunya bisa saja oleh manusia atau alam.

    Dari pengertian ekosistem di atas, kita tahu bahwa unsur penting dari ekosistem adalah komponen-komponen yang ada di dalamnya. Ada dua jenis komponen ekosistem yang diambil secara garis besar yakni:
    1. Komponen abiotik atau fisik. Komponen ini mencakup semua unsur yang bukan mahluk hidup seperti udara, suhu, air, tanah, curah hujan, bebatuan, gurun, karang, salju dan masih banyak lagi lainnya. Materi yang termasuk ke dalam komponen abiotik ini mempengaruhi juga menyokong kehidupan komponen biotik atau hayati dalam sebuah ekosistem.

    2. Komponen hayati atau biotik yang mencakup semua mahluk hidup yang dilihat dari susunan trofiknya dibagi ke dalam beberapa tingkatan yakni komponen produsen, komponen konsumen, dan juga komponen pengurai. Dan apabila dilihat dari fungsi komponen itu sendiri maka ia dibagi ke dalam dua komponen dasar yakni komponen autotrof dan juga komponen heterotrof. Autotrof sendiri merupakan mahluk hidup yang bisa membentuk sendiri makanannya sementara itu heterotrof adalah organism konsumen yang mengambil makanan dari luar dirinya. 

      Macam-macam Ekosistem
      Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air Laut.
    3. a. Ekosistem dara
      Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu : 


      1. Bioma gurun
      Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput.  
    4. Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.

      2. Bioma padang rumput

      Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular.

      3. Bioma Hutan Basah
      Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik.
      Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.

      4. Bioma hutan gugur
      Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang,
      Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).

      5. Bioma taiga
      Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

      6. Bioma tundra
      Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di
      Bersambung ... [Ekosistem Perairan dan Ekosistem Laut]
    Untuk mengetahui istilah-istilah dalam ekosistem, silahkan klik link Istilah-istilah penting dalam ekosistem


    Metamorfosisi Kupu-kupu

    sumber : http://ekosistem-ekologi.blogspot.com
                   http://ridwanaz.com

    Continue Reading




    Pada kesempatan ini saya ingin berbagi kisah monumental sejarah perjalanan hidup seorang  anak yatim yang terlahir dari keluarga sederhana hingga menjadi seorang ulama ternama. Beliau adalah pelita para ulama, sastrawannya para ahli fikih, ahli fikihnya para sastrawan, serta akhlak dan fisiknya nyaris sempurna. Begitulah yang digambarkan oleh orang-orang yang mengenalnya. Beliau berjuang melawan duri-duri kesulitan hingga sampai di taman-taman ilmu. Sejarah telah mencatat perjalanan hidupnya dengan tinta cahaya. Semasa hidupnya Beliau selalu membentangkan kedua tangannya untuk berinfak dan menggariskan senyum pada bibir yang tidak pernah tersenyum.  Beliau adalah lautan ilmu sekaligus imam bangsa Arab. 

    Beliau merupakan salah satu dari imam empat bagi Ahlus-Sunnah, sekaligus pendiri Madzhab Syafi’i.Muhammad bin Indris bin al-Abbas bin Syafi al-Hasyim al Qurasyi adalah nama lengkapnya. Beliau lahir di Asqalan daerah yang terdapat di kota Gaza pada tahun 150 H. Kemudian ibunya membawa ke makkah, untuk tinggal bersama keluarga sang ibu. Saat itu beliau masih kecil dengan kulis yang masih halus. Beliau sangat peduli kepada Al-quran, kecintaanya hingga menghafalnya. Selanjutnya beliau pergi ke pedalaman dan mengumpulkan ilmu tentang syair, bahasa arab, dan sejarah bangsa-bangsa selama dua puluh tahun. 

    Beliau berkata, “Apa yang kulakukan itu hanya untuk membantu pemahaman.” 

    Beliau menghafal kitab Al-Muwaththa di waktu kecil. Beliau datang kepada imam malik dan membacakan kitab yang telah dihafalnya itu kepada imam malik. Imam malik pun  terkagum-kagum dengan bacaan dan bahasa Arabnya. Selanjutnya beliau pergi menghadap kepada para ulama Makkah dan minum dari mata air mereka yang jernih. Dengan kepandaian dan akalnya yang cerdas, beliau mampu mengungguli teman-teman sebayanya. Beliau adalah seorang yang murah hati, dermawan, fasih, bijaksana, dan mahir dalam mengambil pengertian. 

    Masa Kelahiran dan Menuntut Ilmu

    Dikisahkan dari kitab Manaqib li asy-Syafi’i pengarang al-Baihaqi. Ditengah taman kenangan dan kerinduan masa lampau, beliau berkata kepada al-Baihaqi(1), “Jangan sampai kamu tersibukkan dengan hal itu dan fokuslah kepada hal-hal yang bermanfaat untukmu.” Maka kuletakkan semangatku pada ilmu dan kucari ia, hingga Allah menganugerahiku ilmu ini.” (2)  
    Kegairahanku terletak dalam dua hal, yaitu memanah dan mencari ilmu. Dalam keahlian memanah, aku berhasil menembakkan sembilan dari sepuluh anak panah dengan tepat mengenai sasaran.”
    Imam Asy-Syafi’i tidak bicara mengenai keahliannya dalam bidang ilmu, karena kesopanan dan sikap tawadhunya. Bagaimana ia menjaga dirinya agar terhindar dari sifat sombong, seolah tak ingin menampakkan berapa banyak ilmu yang diketahuinya, padahal beliau memiliki banyak pengetahuan. 

    1  al-Baihaqi adalah pengarang kitab Manaqib li asy-Syafi’i
    2  Lihat Manaqib li asy-Syafi’i karya Al-Baihaqi (1, 73/74)


    Keunggulan Asy-Syafi’i dan Kewara’an Seorang Pengajar 

    Sejak kecil, Asy-Syafi’i menjadi istimewa  dengan keunggulan, kemahiran, dan kelebihan dalam menuntut ilmu serta kecintaan terhadap-Nya. Inilah beliu, saat mengisahkan kegairahannya terhadap ilmu serta keunggulan beliau dalam ilmu.
    “Semasa masih di sekolah dasar, aku selalu mendengar pengajar yang mendiktekan ayat kepada anak-anak kecil, lalu aku menghafalnya. Anak-anak kecil itu terus mencatat apa yang didiktekan kepada mereka, hingga sang pengajar selesai mendiktekan. Ketika itu, aku telah hafal semua yang didiktekan oleh sang pengajarku. 

    Ketika sang pengajar melihat kecakapan Asy-Syafi’i dan hafalan beliau terhadap ayat-ayat sebelum dibacakan kepadanya, maka dia berkata kepada Asy-Syafi’i dengan sikap wara’, “Aku tidak halal mengambil satu upah pun darimu.” 

    Semangat Asy-Syafi’i dalam menuntut ilmu 

    Di dalam kebahagiaan dan kegembiraan, Asy-Syafi’i membiarkan akalnya bertamasya di masa kanak-kanak. Kemiskinannya tidak menghalangi beliau untuk mendapatkan ilmu. Ketika telah hafal Al-quran, beliau masuk mesjid dan duduk dalam satu majelis dengan para ulama. Ia mendengar hadis dan berbagai masalah, lalu menghafalnya. Ibunya tidak memiliki uang, bahkan untuk membeli sercacik kertas. Imam syafi’i tidak putus asa, tulang bangkai pun bisa ia jadikan tempat untuk mencatat semua yang dipelajarinya. 

    Pada masa kecilnya, Asy-Syafi’i mencari ilmu tentang syair, sejarah bangsa Arab, dan sastra, hingga beliau memiliki keunggulan dalam bidang sastra. Selanjutnya, beliau menuntut ilmu fikih dan menjadi imam dalam bidang itu. Latar belakang yang menyebabkan Muhammad bin Indri asy-Syafi’i mencari ilmu fikih dikarenakan suatu hari, beliau mengendarai hewan tunggangannya, sementara di belakang beliau ada sekretaris Abdulllah az-Zubair. Asy-Syafi’i pun melantunkan sebait syair, namun sekretaris Abdullah az-Zubair memukulnya dengan cambuk yang dipegangnya, seraya menghardiknya, “Apakah orang sepertimu akan lenyap kehormatannya untuk hal-hal seperti ini? Di mana kepahamanmu terhadap ilmu fikih?”

    Kata-kata itu menggoncangkan perasaan Asy-Syafi’i dan beliau terdiam sebentar. Maka Allah SWT memberinya hidayah untuk menuntut ilmu fikih. Beliau segera berangkat dan menjadi murid az-Zanji bin Khalid, seorang mufti di Makkah. Kemudian beliau belajar kepada Malik bin Anas, Imam kampung Hijrah, Madinah.

    Misalnya diibaratkan dengan keadaan zaman sekarang gini nih alur ceritanya seorang pemuda berkendara dengan sepeda motornya sambil bernyanyi tanpa ia sadari lewat seorang ustadz menepuk pundaknya seraya berkata inikah yang kamu pelajari? Berapa banyak sudah kamu ketahui tentang al-quran? Mana bekalmu untuk akhirat nanti? pak ustadz kemudian mempercepat kendaraannya dan meninggalkan pemuda tersebut dibelakangnya. Pemuda itu tercengang, ia teringat pertanyaan yang dilontarkan pak ustadz tadi. Apa yang sudah aku pelajari tentang agamaku, apa yang sudah ku perbuat, berapa banyak ayat Al-quran dan hadis yang aku ketahui. Ahh mana mungkin bisa begini, lirik lagu puluhan bisa aku nyanyikan tapi al-quran? Tidak! Tidak! Tidak!!! Aku harus berubah. Harus! (semoga ada ya pemuda yang begini,  amin :) ) 

    Pemuda itu pasti ada, meskipun perubahannya dikarenakan kejadian yang bermacam-macam. Itulah pentingnya kita saling mengingatkan satu sama lain, saling menasehati dan saling mengasihi.
    “Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, hendaklah (ia mengubahnya) dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).   


    Sumber : Buku Keagungan Imam Asy-Syafi'i





    Continue Reading
    sumber : http://illbeyourpaparazzi.com
    Hari terus bertambah, dan jatah usia semakin menipis untuk kita. Tahun baru lagi, entah sudah berapa hitungan kita lalui. Sudahkah kedewasaan menjadi milik kita?
    Usia tua dan kedewasaan, ternyata di banyak kasus tak bisa dikumpulkan pada sosok yang satu. Pada satu sosok, kita menjumpai seseorang dengan usia yang sudah cukup matang, tapi kedewasaan yang dimilikinya demikian mentah. Pada sosok yang lain, justru sebaliknya. Nampak masih muda, tapi jiwa dan perasaannya demikian tua. Menjadi tua, tak selamanya berarti menjadi dewasa.   

    Berapa banyak sudah ilmu yang kita pelajari? Dari sekian banyak ilmu yang sudah kita pelajari, berapa persen yang telah meningkatkan kualitas hidup kita? Cara berpikir kita? Sikap kita? yah pertanyaan itu yang selalu ku tanyakan pada diriku sendiri. 
    Belajar ada, tapi tak lama setelah belajar lupa lagi, lepas tu belajar lagi, baca lagi, ingat lagi. ingatnya itu sikit pula. tapi syukur bila ada baca, adalah kita tau walaupun ngak banyak. (kenape macem ni logatnye, suke la cakep pake bahasa malaye) :D 
    Mudah-mudahan kita seperti kalimat yang pernah disabdakan oleh Rasulullah, “Allah akan membahagiakan seseorang yang mendengar ucapanku, kemudian dia sadar dan melaksanakannya seperti yang didengarnya.”

    Akhlak yang mulia, untuk itulah Rasulullah diutus pada manusia. Dalam dirinya berkumpul sifat-sifat mulia. Rasa malu yang tinggi, murah hati, berani, penuh kejujuran, sungguh-sungguh dalam segala hal, santun dan ramah, lemah lembut, dan sangat mencintai keindahan dan kebersihan. Karena itu Rasulullah, pernah bersabda, “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang – orang yang bertambah baik akhlaknya, setiap kali umur kita bertambah dan jatah hidup kita berkurang. Menyatukan sikap-sikap mulia dalam diri kita. Seperti uswah yang telah dicontohkan Rasulullah tercinta.

    Rasulullah adalah sosok dengan pribadi sangat pemalu, tapi sekaligus sosok yang tak pernah kehilangan percaya diri. Sedangkan kita kini, rasa malu kita nyaris tipis. Rasulullah adalah seseorang yang berani tapi juga sangat rendah hati. Tapi kita, jika sudah berani, begitu sombong dan lupa diri. Rasulullah adalah sosok yang lemah lembut, santun dan ramah. Tapi kita, baru sedikit saja yang kita pahami, seolah-olah telah tahu seluruh isi dunia dan kehidupan di dalamnya. 

    Dalam salah satu riwayatnya, Imam Muslim mengutip perkataan dari Abu Hurairah yang pernah mendengar sebuah hadits dari Rasulullah. Sebuah hadits tentang orang-orang dan golongan manusia yang kelak akan menghadap dan diadili pertama kali di depan Allah SWT. Sesungguhnya, orang pertama kali yang disidang ada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia dihadapkan pada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. Lalu Allah bertanya, “Apa yang engkau lakukan dengan semua ini?
    Lalu si fulan menjawab, “Aku telah berperang demi engkau, hingga aku mati syahid.” Tapi Allah menolak kesaksiannya. “Engkau bohong. Engkau berperang agar disebut sebagai seorang pemberani. Lalu Allah memerintahkan si fulan untuk diseret ke dalam api neraka. 

    Ternyata, apa yang kita anggap sebagai sebuah kebaikan, belum tentu murni dihitung sebagai kebaikan. Karenanya kita harus senantiasa menjaga diri, dari segala kemungkinan yang akan mengugurkan amal-amal besar kita laksana debu yang berterbangan. Berhati-hati adalah bentuk kesadaran yang akan mengantarkan kita pada kedewasaan dalam meniti kehidupan.

    Masih dalam hadits yang sama, Abu Hurairah mengutip sabda Rasulullah. Setelah para syahid, giliran berikutnya yang dipanggil untuk bersaksi adalah para pencari ilmu yang mengajarakannya dan juga yang membacakan Al-quran. Dihadapkan kepada mereka nikmat-nikmatnya dan dia mengenalinya. “Apa yang engkau lakukan dengan semua ini,” tanya Allah pada si fulan.
             “Aku telah belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca al-quran demi Engkau semata,” jawab si fulan. Tapi Allah menolak kesaksiannya. “Engkau bohong. Engkau belajar agar dikatakan sebagai seorang qari.” Lalu Allah memerintahkannya diseret ke dalam  neraka. 

    Betapa rentan kesadaran manusia. Sehingga ia harus terus menerus membersihkannya. Satu niat buruk senantiasa mengancam untuk menyusup dan menelisik ke dalam perbuatan baik. Lalu karenannya perbuatan baik menjadi lancung. Duhai, orang-orang yang berilmu, mencuci niat dan membersihkan persepsi semoga senantiasa bisa kita lakukan setiap kali. Kebenaran memang mutlak, tapi kadang sikap kita pada kebenaran yang bisa jadi mengantarkan kita pada jalan yang tak kita harapkan.

    Golongan ketiga setelah para syahid dan orang-orang berillmu, dalam hadits ini Abu Hurairah menyebutkan golongan orang-orang kaya dan lapang rezeki yang akan diadili. Dia hadapkan nikmat-nikmatnya dan dia pun mengenalinya. “Apa yang engkau lakukan dengan semua ini?” tanya Allah pada si fulan. 

    “Aku mendermakannya di jalan yang Engkau ridhai,”jawab si fulan. Tapi Allah menolak kesaksiannya. “Engkau bohong. Engkau menderma agar dikatakan sebagai seorang dermawan.” Kemudian Allah memerintahkannya untuk menjadi penghuni neraka. Sekurang-kurangnya, lima kali dalam sehari kita berikrar pada Allah dan pada diri sendiri, bahwa hidup dan mati kita, amal dan ibadah kita, hanya dilakukan semata-mata dengan satu alasan. Untuk Allah, Tuhan semesta Alam.

    Hari ini, kadang kita menemui orang yang mengaku memperjuangkan agama Allah justru orang yang bersikap kasar dan kurang toleran. Kadang kita juga menemui, orang-orang yang berilmu lupa tata cara bersikap santun dengan dalih begitulah kebenaran. Dan seringkali kita menemui, orang-orang yang lapang rezeki memberi dengan harapan mendapat imbalan, baik dalam bentuk nama, status, budi atau imbalan-imbalan yang lain lagi. 

    Kesadaran berkorelasi sangat erat dengan budi pekerti. Kesadaran yang tinggi, insya Allah menggantarkan kita pada prilaku mulia. Perilaku adalah buah dari kesadaran. “Dan kerjakanlah perbuatan baik, sesungguhnya aku melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS Saba:11)
    Kesadaran harus terus menerus menjadi milik kita. Ketika kita memberi, kesadaran memberi karena Allah harus menjadi motivasi satu-satunya. Ketika kita mengajar, kesadaran berbuat karena Allah harus menjadi satu-satunya tujuan. Dan ketika kita membela agama ini, satu-satu motivasi yang harus kita jaga tanpa henti adalah hanya untuk Allah. 

    Sungguh, watak dan karakter manusia tak pernah satu dan berbeda-beda jenisnya. Ketika kita memberi, kadang mereka membalasnya dengan rasa terima kasih. Tapi tak jarang mereka justru berburuk sangka dan curiga. Perbuatan baik mendapat balasan perbuatan buruk yang tak diduga sama sekali pada awalnya. Karenanya, luruskan niat dengan kesadaran yang tinggi hanya untuk Allah semata-mata. Berharap pada manusia, kelak kita akan menuai kecewa. Bersandar pada Allah, insya Allah kita akan menemukan sandaran yang kita akan menemukan sandaran yang besar lagi kokoh.

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me

    Tak ada kata terlambat untuk belajar, tak ada kata terlambat untuk berbuat baik, tidak ada kata terlambat untuk berubah

    [ Contact ]
    mynamedora25@gmail.com

    Google Facebook Twitter Instagram

    Popular Posts

    • Waspadai lipstik Bermerek tapi kw dan inilah ciri-cirinya
    • Bercermin dari Metamorfosis Kupu-kupu
    • Sejarah Masjid dan Tongkat Po Teumeureuhom di Pidie
    • Sepiring mie china, kuliner nikmat cuma tujuh ribu
    • Nostalgia Bersama Pelajaran IPA SD

    Arsip Blog

    • ▼  2018 (2)
      • ▼  September 2018 (1)
        • ASIAN GAMES 2018 DI INDONESIA BIKIN BANGGA
      • ►  April 2018 (1)
    • ►  2017 (11)
      • ►  October 2017 (2)
      • ►  September 2017 (1)
      • ►  April 2017 (5)
      • ►  March 2017 (1)
      • ►  February 2017 (1)
      • ►  January 2017 (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  April 2016 (1)
      • ►  January 2016 (2)
    • ►  2015 (30)
      • ►  November 2015 (2)
      • ►  October 2015 (2)
      • ►  September 2015 (4)
      • ►  August 2015 (2)
      • ►  July 2015 (2)
      • ►  June 2015 (1)
      • ►  May 2015 (3)
      • ►  March 2015 (5)
      • ►  February 2015 (3)
      • ►  January 2015 (6)
    • ►  2014 (9)
      • ►  May 2014 (1)
      • ►  April 2014 (8)

    Sahabat Blog

    Member of Agam Inong Blogger

    Member of Blogger Perempuan

    Member of Blogger Perempuan

    Aceh Blogger

    Waktu adalah Ibadah

    facebook Twitter instagram pinterest google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top