Beranda

  • Beranda

Zuhra Asra | Lovid this life

    • Home
    • Traveling
    • Lifestyle
    • Culinary
    • Health
    • Kuah Pliek U
    • Review

    Tahukah kalian tanggal 2 Mei memperingati hari apa?

    Tentu saja bukan hari kelahiran saya apalagi hari kelahiran pacar, #eh, emang punya??. *hening 
    Tanggal 2 Mei pada kelendernya orang Indonesia ditetapkan oleh Presiden RI tahun 1959 sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tanggal itu merupakan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, beliau salah seorang yang berjasa dalam membangun pendidikan di Indonesia. Berkat jasa dan perannya yang begitu besar untuk kemajuan pendidikan Indonesia, diabadikanlah hari kelahirannya menjadi Hardiknas dan Ki Hajar Dewantara dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.

    Para relawan siap berangkat menuju lokasi
    Diskusi kecil-kecilan selama dalam perjalanan
    Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, saya beserta teman-teman yang tergabung dalam gerakan Turun Tangan Aceh berinsiatif menyelenggarakan hardiknas disekolah pelosok. Terpilihlah satu sekolah yang berada di Gunung Paro, Lhoong, Aceh Besar yang berada di sekitaran kaki Gunung Kulu. Jarak tempuh untuk sampai kesana menghabiskan waktu 1 setengah jam lebih dari kota Banda Aceh.



    Usai terkumpul semua para relawan di perkarangan PKA (Pekan Kebudayaan Aceh), kami bergegas berangkat dengan menggunakan 2 mobil Pack-up, 1 Kijang Inova dan 4 Sepeda Motor. Semua mobil terisi penuh, Barang bawaan relawan pun tak  kalah banyaknya dengan jumlah 43 orang relawan yang ikut. Kondisi dalam mobil berdesak-desakan sangking padatnya muatan, syukurnya mobil terbuka. Disinilah salah satu bagian keseruannya.

    Langit mulai berubah warna biru gelap, terbentang lebar diatas kepala. Suara azan mulai bergema, waktu shalat magrib telah tiba. Mobil terus melaju melewati perpohonan besar dan melintasi jalan yang berkelok-kelok. pukul 18.58 kami tiba di SD 1 Cot Jeumpa. Setiba disana, kamar mandi adalah paling utama yang kami cari.  Sedikit kecewa ketika melihat bak kamar mandi dalam keadaan kosong. Waktu magrib sangat singkat,  kami pun mencari tempat lain yang bisa digunakan untuk berwudhu. Berdasarkan informasi warga setempat, ada mushalla selang satu rumah dari sekolah namun si bapak menyarankan kami agar shalat di mushalla yang berada didepan lagi, sebab mushalla itu sudah lama tidak digunakan. Kami pun patuh saja dengan saran si bapak, kami lanjuts berjalan mencari mushalla. Ternyata jaraknya lumayan jauh, ada sekitar 50 meter. Setelah berlari-lari kecil yang terlihat hanyalah balai pengajian, ada belasan anak sedang mengaji diatas balai. Melihat keadaan sepertinya tidak memungkinkan untuk shalat disana. Kami pun menumpang shalat di warung nasi seberang jalan. Syukurnya pemilik warung sangat baik, ia langsung mempersilahkan kami menggunakan tempat shalat. 
     
    suasana dalam mobil ketika langit mulai gelap
    Baterai tenaga mulai melemah, namun semangat para relawan mampu mensuplai energi kembali. Tim konsumsi langsung mengambil posisi didapur darurat. Makan malam akan segera dihidangkan. sementara relawan yang lain sibuk mempersiapkan bahan belajar serta perlengkapan untuk besok. Makan malam kini siap disantap, kami makan bersama duduk lesehan di emperan sekolah. Ada yang makan sepiring berdua dan adapula yang makan dua piring seorang..  (dua kali tamboh maksudnya).





    Usai makan, kami briefing sejenak membahas persiapan acara  besok pagi. Tidak terasa arah jarum jam menunjukkan pukul 12 malam. Menimbang dan mengingat stok tenaga harus banyak untuk besok , kami pun kembali ke camp masing-masing. Malam itu menjadi malam yang panjang, semakin larut malam pasukan pengisap darah semakin ramai berdemontrasi, tiada henti-hentinya. Selimut pun tidak mampu menghalangi moncong mulutnya menusuk kulit. Diantara posisi relawan wanita yang sudah terlelap dalam mimpinya masih ada seorang terduduk di dekat lemari buku, meringgis tidak bisa tidur. Yang sudah tidur pun juga masih ada yang bergerak-gerak, jumlah nyamuk memang luar biasa malam itu. 
     
    Seketika terdengar suara hujan turun di atas genteng, butiran hujan memandu pendengaran hingga mata terpejam, amukan nyamuk pun tak terpedulikan lagi. Paginya lapangan upacara dipenuhi genangan air hujan. Namun para relawan tidak kehabisan akal, dengan segala upaya dan cara, air dilapangan diangkut dan dibuang ke selokan. Satu persatu murid mulai berdatangan, kami masih saja menggeringkan lapangan upacara. Kini air kuning kecoklatan tersisa sedikit, lapangan upacara siap digunakan.




    Murid mulai berbaris, pasukan penggiring bendera berserta anggota upacara lainnya sudah siap dan tim paduan suara relawan turun tangan juga sudah ready untuk memulai upacara. Peserta upacara diisi oleh sekelompok murid TK berseragam olahraga warna pink lalu murid SD berpakai pramuka, dan merah putih seragam para relawan Turun Tangan. Perpaduan warna pink,coklat muda,coklat tua dan merah putih mewarnai lapangan upacara. 


    Pengibaran dilakukan oleh Relawan Turun Tangan Aceh

    Sabtu, 2 Mei 2015 pengibaran bendera berlangsung di sekolah ini. Inilah pelaksanaan upacara hardiknas pertama kalinya diadakan di SD 1 Cot Jeumpa. Hari ini akan menjadi moment yang tidak pernah terlupakan, upacara bendera mengingatkan masa-masa ketika masih memakai seragam sekolah, berbaris bersama teman-teman kelas dibawah terik matahari, tak jarang ada yang tumbang kemudian dilarikan ke ruang UKS, dan ada pula yang berulah di barisan. Kenangan itu muncul seketika dari dalam memori kepala.

    Upacara telah selesai, kini saatnya tim pengajar memasuki kelas sesuai random. Keahlian para relawan terpancar saat mereka berada dalam kelas, kelihaian bicara dan gaya pengajar membuat murid-murid betah dan tertawa riang. Semua murid diajarkan materi tentang lingkungan, kesehatan, kreativitas dan pengenalan cita-cita. Kecuali kelas 1 hanya belajar kreativitas dan kesehatan. Menjadi seorang guru ternyata tidaklah mudah, guru harus mampu menjadi figur yang sempurna untuk murid. Harus tetap senyum dikelas walaupun hati gelisah, diliputi banyak masalah, galau dan sebagainya. Harus bisa semampunya menekan aura negatif dari diri sendiri. Beban moralnya menyangkut orang banyak dan kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Menjadi guru memang pekerjaan luar biasa. Itulah yang ku lihat, kagum pada mereka (tim relawan mengajar).

    Ada sekitar 80 orang murid di sekolah ini dengan 7 orang guru termasuk kepala sekolah di dalamnya. Bapak Junaidi selaku kepala sekolah menjadi satu-satunya lelaki di sekolah ini, yang lain semuanya guru perempuan. Sekolah ini tergolong sekolah yang bagus, bangunan dan perangkat belajarnya dalam keadaan baik. Sekolah ini juga memiliki ruang pustaka yang cukup luas untuk tingkat sekolah SD. 

    Namun kondisi murid yang bersekolah di SD ini tidak selayak sekolahnya, bukan prestasi dan akhlak mereka melainkan penampilan mereka. Ada dua orang murid yang kami temui menggenakan sepatu dalam kondisi sudah sangat parah, parahnya koyakkan sampai empat jari-jari kaki tampak keluar, dan ada juga yang belum memiliki seragam pramuka. Bila dalam barisan paling menonjol sebab hanya dua orang yang mengenakan seragam putih, satu murid laki-laki dan satu murid perempuan.

    Kita kembali ke sekolah, waktu siang telah tiba. Semua murid telah menyediakan persiapan untuk tidak pulang hingga kegiatan selesai, mereka membawa perlengkapan sholat, bekal siang dan segala keperluan lainnya. Usai makan siang, seluruh murid shalat berjamaah di balai pengajian, terpaksa berjalan jauh sebab hanya itu satu-satunya tempat yang bisa digunakan. 

    Jam 3 seluruh murid berada dalam kelas, lomba mengambar telah dimulai. Ruang kelas lumayan luas, jadi kami hanya membagi menjadi dua kelas menggambar. Masa penantian telah berakhir, pengumuman pemenang sudah disebutkan. Terpilihlah 3 juara dan 1 juara favorit dari setiap kelas. Semua hadiah diberikan kepada 8 orang murid yang menggambar dengan nilai tertinggi.  Ada penambahan satu hadiah spesial yang dipersiapkan oleh mahasiswa UNIMAL (Universitas Malikussaleh) yang datang jauh dari Lhokseumawe untuk berbagi. Salah seorang dari mereka, Heru namanya mewakili 2 orang temannya menyerahkan hadiah spesial ini kepada Mujibul. Mujibul terpilih sebab ia bertindak sebagai imum shalat berjamaah ketika shalat zuhur. Tepuk tangan semua orang yang menyaksikannya menyemarakkan penyerahan hadiah tersebut. 

    Pembagian surat motivasi menjadi penutup acara sore itu, surat motivasi ini ditulis oleh para relawan turun tangan, murid-murid MIN Mesjid Raya juga ikut serta menulis surat untuk anak-anak SD Cot Jeumpa, dan surat motivasi ini juga dituliskan oleh para relawan yang mengali ilmu dan bekerja diluar Aceh, bahkan ada dari luar negeri, seperti Amerika dan Jepang. 

    Ramai sekali yang antusias, mereka yang tidak bisa hadir pun ikut menyumbangkan bantuan dana.  Kegiatan peduli pendidikan adalah konstribusi terbaik yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan masalah pendidikan yang belum terbenahi dengan langsung turun ke lapangan. Sebagai bukti aksi nyata, Peduli pendidikan telah digerakkan lebih dulu seperti yang dilakukan Rumah Aceh dan TPMT  Lamirah. Inilah harapan bahwa di Nanggroe Aceh ini masih ada orang yang peka dan mau peduli pada sesama.

    Saya teringat kata-kata Joserizal jurnalis, pak dokter sekaligus salah satu pendiri Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C), Lembaga sosial yang aktif dalam misi kemanusiaan. Ia berkata “ Orang yang diberikan amanah berupa kecerdasan atau kemampuan lain, jangan hanya digunakan untuk diri pribadi dan keluarga saja. Karena mereka lebih beruntung, harus dimanfaatkan ke orang yang tidak beruntung”. 

    Akhirnya, benarlah pepatah bijak bahasa latin untuk kata terakhir tulisan ini, VEBRA DOCENT SED EXEMPLA TRAHUNT (kata-kata itu mengajar tetapi contoh dan teladan itu berdaya menyakinkan dan meneguhkan untuk kehidupan).


    Foto bersama Kepala sekolah, para guru, murid dan seluruh relawan TUTA Aceh

    Continue Reading


    Foto diambil di Mesjid Agung kota Meulaboh usai shalat zuhur
    Pagi itu saya dan teman-teman dari Sobat Bumi Aceh sudah berkumpul di lapangan Tugu Unsyiah, kami bersiap-siap untuk berangkat ke Melaboh. Kalau biasanya sering aksi nanam mangrove di seputaran Aceh Besar maka sekarang kami akan menuju ke berbagai kabupaten yang ada di Aceh. Kota Meulaboh menjadi tujuan pertama kunjungan Sobami (Sobat Bumi ) Aceh di bulan ini.

    Hari Minggu pada umumnya dimanfaatkan untuk berlibur atau istirahat dirumah, jika masih beraktivitas diluar, apa enggak capek? Kerap kali pertanyaan serupa disodorkan kepada saya, namun saya punya penilaian sendiri.

    Toh apa yang saya lakukan juga sangat menyenangkan, berkumpul bersama teman-teman, jalan-jalan ketempat yang belum pernah saya datangi. Bukankah ini juga liburan, bahkan bagi saya  lebih dari sekedar liburan. Setidaknya saya bisa melakukan hal yang bermanfaat, begitu pun dengan Sobami yang lain, tentunya mereka tidak mungkin mengambil pilihan yang salah. Dan bukan dora namanya kalau tidak berpetualangan. :D
    Baiklah izinkan saya menceritakan sedikit mengenai Mangrove.



    Menghadiri undangan dari pemerintahan kota Meulaboh pada malam acara memperingati jasa pahlawn Teuku Umar

    Mangrove memiliki banyak manfaat, selain baik untuk kehidupan manusia juga baik untuk kestabilan lingkungan. Pentingnya tanaman mangrove di kawasan pantai, hal ini untuk mencegah erosi serta penyangga proses intrusi atau rembesan air laut ke darat, sebab akar pohon bakau berfungsi menahan ombak besar yang sering menghantam pantai. Hutan Mangrove juga menjadi kawasan untuk berlindung, bersarang dan berkembang biak  bagi burung dan hewan lainnya. Dan masih banyak manfaat lain yang didapat dari  hutan mangrove ini. 
    Aksi nanam mangrove di pesisir pantai Meulaboh
    warga dan Dinas pariwisata





    Oleh sebab itu perlu partipasi seluruh masyarakat terutama masyarakat pesisir untuk melestarikan dan menciptakan lingkungan yang asri. 

    Kembali ke topik perjalanan, Pukul 14.00 siang kami tiba di meulaboh, usai shalat di Mesjid Agung Meulaboh kami melanjutkan perjalanan untuk makan siang bersama IKAMBA yakni Ikatan Mahasiswa Barat Daya. Seperti biasa, saya berjumpa dengan teman-teman baru lagi disana.

    Waktu penanaman pun dimulai, sobami Aceh beserta pihak pemerintahan dan lembaga setempat sama-sama turun ke tepi pantai untuk menanam mangrove. Malamnya kami diundang mengikuti acara mengenang jasa Pahlawan Tengku Umar bersama warga. Hari itu jadwal benar-benar padat, tengah malam kami harus kembali ke kota Banda Aceh. Karena sebagian dari kami harus masuk kuliah besok pagi. Suasana perjalanan berkelok-kelok, tebing yang terlihat dari kaca bus pun tidak kalah mencekamkan. Begitulah Momentum "One day" dikota Meulaboh, ternyata negeri sendiri jauh lebih indah serta kaya nilai sejarahnya. Indahnya bersama Sobat Bumi Aceh, tiada hari tanpa tertawa ketika bersama mereka. 
        Foto bareng di belakang mesjid yang masih berdiri kokoh setelah diterjang Tsunami, posisi mesjid sangat dekat dengan laut.


    Berkumpul bersama relawan peduli lingkungan dari kota meulaboh

    Continue Reading

    Malam Meet and great bersama Maher Zain and Friends di Balai Kota Banda Aceh
    Rabu malam, 10 Oktober 2012 kami menggores sejarah baru dalam catatan organizer konser di Aceh. untuk pertama kali, konser musik bertaraf internasional sekaliber Maher Zain and friends terselenggarakan di  Aceh. Syukur sekali rasanya terlibat dalam kegiatan besar seperti ini. Berkah BB (Blackberry) pinjaman dari kakak sementara waktu disaat itu, saya terhubung dengan penyelenggara kegiatan tersebut. 

    Alhamdulillah saya menjadi bagian dari konser akbar ini, dari situ saya bisa melihat Maher Zain dan irfan makki dari dekat. Pelaksanaan konser Maher Zain and friends, tentu saja tidak terlepas dari usaha keras sang promotor lokal. Dalam hal ini adalah El Hanief organizer. Dengan segala keterbatasan, serta minimnya support finansial, namun berhasil mendatangkan seniman dunia seperti Maher Zain ke Bumi Serambi Mekkah. Proses yang dilalui pun tidak mudah, persiapan konser ini sudah jauh-jauh hari direncanakan pihak promotor, saat saya masuk dalam kegiatan ini sudah 60 persen berjalan. 

    Panitia yang terlibat dalam konser ini menurutku terbilang unik, sebab kebanyakan orang-orang baru, latar belakang status  kami pun berbeda-beda. Ada yang berprofesi Penyiar radio, Dokter, Bisnisman, Guru, Ibu rumah tangga  dan seperti saya berstatus Mahasiswa. Jelas bisa dilihat kebanyakan dari kami bukanlah orang yang ahli dan paham betul dengan urus-mengurusi konser. Wajar saja kami dipertemukan melalui BBM (Blackberry Messenger), di acara itulah awal perkenalan, sebab sebelumnya kami tidak saling mengenal satu sama lain. 


     

    Menjelang kedatangan Maher Zain suasana antara senang bercampur gelisah menghampiri perasaan kami, harap-harap cemas dengan persiapan nanti.  Hari penjemputan kami sepakat untuk memakai warna baju senada, kebetulah hari itu ada jam kuliah,  saya  berniat tetap masuk kelas meski sebentar, kemudian minta izin pada dosen. Alhamdulillah dosen memperkenankan izin saya. Saya pergi menuju sekret MZFC, berharap panitia penjemputan masih berada ditempat. Ternyata saya kalah cepat, rombongan sudah duluan berangkat. Saya putuskan untuk melaju sepeda motor ke bandara Sultan Iskandar Muda seorang diri. Perjuangan saya tidak sia-sia, rombongan Maher Zain belum sampai di bandara, sehingga saya tidak melewati moment ini.  Malam Puncak acara penonton sudah ramai berdiri menunggu pintu stadion H. Dimurthala dibuka. Saya berserta panitia lain sempat ikut menjaga pintu gerbang bersama penjaga keamanan dan bapak-bapak polisi. Malam itu sungguh pengalaman yang tidak pernah terbayangkan dalam hidup saya, banyak sekali kenangan yang terjadi mulai dari sebelum malam puncak konser sampai konser selesai.

    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me

    Tak ada kata terlambat untuk belajar, tak ada kata terlambat untuk berbuat baik, tidak ada kata terlambat untuk berubah

    [ Contact ]
    mynamedora25@gmail.com

    Google Facebook Twitter Instagram

    Popular Posts

    • Waspadai lipstik Bermerek tapi kw dan inilah ciri-cirinya
    • Bercermin dari Metamorfosis Kupu-kupu
    • Sejarah Masjid dan Tongkat Po Teumeureuhom di Pidie
    • Sepiring mie china, kuliner nikmat cuma tujuh ribu
    • Nostalgia Bersama Pelajaran IPA SD

    Arsip Blog

    • ▼  2018 (2)
      • ▼  September 2018 (1)
        • ASIAN GAMES 2018 DI INDONESIA BIKIN BANGGA
      • ►  April 2018 (1)
    • ►  2017 (11)
      • ►  October 2017 (2)
      • ►  September 2017 (1)
      • ►  April 2017 (5)
      • ►  March 2017 (1)
      • ►  February 2017 (1)
      • ►  January 2017 (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  April 2016 (1)
      • ►  January 2016 (2)
    • ►  2015 (30)
      • ►  November 2015 (2)
      • ►  October 2015 (2)
      • ►  September 2015 (4)
      • ►  August 2015 (2)
      • ►  July 2015 (2)
      • ►  June 2015 (1)
      • ►  May 2015 (3)
      • ►  March 2015 (5)
      • ►  February 2015 (3)
      • ►  January 2015 (6)
    • ►  2014 (9)
      • ►  May 2014 (1)
      • ►  April 2014 (8)

    Sahabat Blog

    Member of Agam Inong Blogger

    Member of Blogger Perempuan

    Member of Blogger Perempuan

    Aceh Blogger

    Waktu adalah Ibadah

    facebook Twitter instagram pinterest google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top