Beranda

  • Beranda

Zuhra Asra | Lovid this life

    • Home
    • Traveling
    • Lifestyle
    • Culinary
    • Health
    • Kuah Pliek U
    • Review

    Snorkeling baiknya dilakukan di siang hari karena sangat mengandalkan sinar matahari. 

    Setelah setengah jam lebih berenang diatas permukaan air, tiba-tiba kaki terasa keram dan sulit digerakkan. Syukurnya ada pelampung,  memudahkan saya bergerak mencari tempat untuk menepi. Teman-teman berusaha membantu, syukur keramnya tidak terlalu parah jadi masih bisa saya kendalikan sendiri. saya menepi ke pinggiran bot yang terikat di tengah laut,  jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat awal saya mengapung. Bot ini sedikit berbeda dari bot biasanya, ukurannya lebih lebar dan luas. Bot  mati ini disediakan untuk tempat penyinggahan para penyelam, khusus untuk istirahat, diatasnya ada dua kursi panjang dan beratap seng. 

    Bot untuk beristirahat dan bersantai



    Ada seorang bapak duduk diatas bot tersebut, ia berusaha menolong saya naik ke atas botnya. Seakan ia tahu bahwa saya butuh bantuannya. 

    Saya masih kesulitan naik ke atas padahal sebelah tangan sudah mengengam tangannya. Ia menyarankan untuk melepas sepatu katak supaya lebih mudah naik keatas. Benar seperti katanya, usai meletakkan sepatu katak diatas bot, saya pun lebih mudah bisa naik ke atas. “Terimakasih pak”,. “Iya nak, nada suara ramah itu menjawab. 

    Lah na bapak,menyoe han mungken trep lom lon jeut ek keuno (syukur ada bapak, kalau tidak mungkin lama lagi saya baru bisa naik ke atas). sapa saya padanya. Sengaja menggunakan bahasa Aceh, agar ia berbicara bahasa Aceh. Sebab pengunjung yang datang ke Sabang tidak hanya dari Aceh saja tapi juga dari berbagai daerah diluar Aceh. Jadi masyarakat sekitar umumnya menggunakan bahasa Indonesia  ketika hendak berbicara dengan tamu. Dengan berbahasa Aceh, saya menunjukkan bahwa kami sedaerah, jadinya ia tak perlu ragu menggunakan bahasa daerah. Biasanya bila berbicara mengunakan bahasa daerah sendiri kita akan lebih akrab dan leluasa, seakan berbicara bersama saudara sendiri, padahal tidak saling kenal sebelumnya. 


    Kami berbincang-bincang banyak, mulai tentang masyarakat yang tinggal di pulau Aceh sampai keadaan laut pulau Rubiah. Sayangnya saya lupa nama bapak itu, terlalu pede menyimpan semuanya didalam memori kepala. Alhasil sebagian informasi rontok dalam perjalanan pulang kembali ke Banda Aceh. 

    Anggap saja ya namanya pak din. Saya salut padanya,  di usianya yang tidak muda lagi, rambut putih tumbuh subur di antara rambut hitamnya. Ia tidak mengeluh dan pasrah begitu saja pada nasib, ia tetap bekerja meskipun yang didapatnya tidak seberapa. Berapapun yang didapat slalu ia syukuri, hingga cukup untuk kebutuhan sehari-harinya. Wajahnya yang hitam dijilat matahari menjadi bukti pahitnya mencari rezeki dilaut. menunggu dan mengantar penyelam menjadi perkerjaan rutinnya setiap hari. terkadang jika siang harinya sepi pengujung, ia pergi memancing di malam hari. Hasil yang didapat pun lumayan katanya. Bila hasil pancingannya banyak, sebagian dijual dan sebagian lagi dibawa pulang kerumah. Pak din tinggal disamping mesjid, katanya rumahnya sekitar itu. Ia juga menawari untuk singgah kerumahnya, bahkan jika pergi nanti ada ikan gurita dirumah hasil tangkapannya semalam. Beliau bukanlah asli orang sabang, semenjak menikah dengan wanita Sabang ia memutuskan untuk menetap di pulau surganya para penyelam.  




    Setelah  saya ceritakan asal dan tujuan kedatangan ke sabang merupakan serangkaian kegiatan dari organisasi kampus. Pak din lalu bercerita bahwa salah satu anaknya baru saja masuk kuliah di salah satu kampus di Sabang. Dari raut wajahnya saya melihat  sebongkah senyum dan perasaan bahagia. Dengan senang hati ia menceritakan tentang anaknya yang  kini duduk bangku kuliah. Begitulah orang tua, jikalaupun mereka susah, cukuplah mereka saja yang merasakannya.  Mereka berharap anak-anaknya tidak bekerja melaut seperti ayahnya. Mereka menginginkan masa depan anaknya jauh lebih baik dari nasib orang tuanya.

    Iboih dan Pulau Rubiah di seberangnya bila dilihat dari udara tampak seperti bentuk huruf U, Iboih berada di bagian dalam lengkungan sisi kiri. Letak geografisnya mengisyaratkan keterbukaan untuk datang dan pergi kapan pun itu. Bahkan tsunami pun tak begitu banyak berdampak di sini, karena Iboih tersembunyi. Kondisi terumbu karang dulunya jauh lebih baik sebelum tsunami melanda aceh. tsunami bukanlah satu-satunya penyebab kerusakan terumbu karang, ulah perombak ikan juga menjadi penyebab hancurnya rumah ikan serta berkurangnya populasi ikan. Begitu informasi yang saya terima dari pak din.

    Ketika sedang asik bicara, tiba-tiba anggi salah seorang dari anggota organisasi sekaligus sahabat  muncul di sebelah bot dan memanggil saya, tampaknya ia kelelahan berenang terus. Pak din membantu saya menarik anggi ke atas bot. Jadilah kami bertiga duduk diatas bot dan berbincang-bincang lagi dengan pak din. Tak lama kemudian muncul dua penyelam dari dalam laut. Ternyata orang bule, mereka berbicara bahasa asing. Lalu pak din meninggalkan kami, dengan bot mesin ia membawa dua bule tadi ke pantai Iboih. Tinggalah kami berdua diatas bot, saya dan anggi sepakat untuk duduk saja diatas bot, sembari menikmati pemandangan laut dan langit. Sesekali kami tertawa-tertiwi melihat tingkah teman-teman yang masih setia bersama pelampung berenang diatas permukaan air.






    Hari keempat, hari keberangkatan kami pulang kembali ke Banda Aceh. Pagi-pagi buta kami sudah bangun, usai shalat subuh kami langsung melaju kendaraan menuju pelabuhan Balohan. Tak lupa pula beli Oleh-oleh, makanan khas Sabang. kalo yang ini musti dan wajib dibeli :)
    Begitulah segepok cerita saya dari Sabang. Pertama kali melihat sudah jatuh cinta padanya. Sabang I'm in Love ~.~ 



    Sabang I'm in Love #part1 
    Continue Reading
    Sumber foto : www.travellist-tour.com
    Berlibur menjadi moment yang sangat menyenangkan tentunya, apalagi menikmati liburan bersama orang terkasih. Siapa sih yang tidak merindukan masa liburan, meski cuma sebentar tetap saja moment liburan ngak  bisa disia-siakan begitu saja. Masa inilah yang kerap paling dinanti setiap orang terutama mereka yang kerja dikantoran dan anak kuliahan. Kali ini saya akan ceritakan sedikit rute perjalanan kedua ke pulau Sabang.  Pulau yang indah dan ramah penduduknya. Kunjungan kedua ini terbilang lebih nekat, menapa begitu, semasa hidup  baru inilah pertama kalinya pergi liburan bersamanya keluar pulau. kondisinya saya juga ngak ingat-ingat betul jalan disana. Ya sudahlah, untuk mewujudkan impiannya apapun akan saya lakukan. #cieelaah..

    Hari rabu kami bergegas menuju ke pelabuhan Ulee Lheue, hari itu tanggal 27 Juni 2012. Sekitar pukul 11 siang  roda kapal berputar, dayung-dayung menyapu air dan menggerakkan kapal. Kami mengambil posisi duduk di samping kanan badan kapal. Tempatnya lebih dingin karena arah mataharinya berada sebelah kiri kapal yah walaupun uap dari bawah lumayan panas, tapi tak apalah bila sudah lihat keindahan didepan mata, derita pun tak pikir lagi. Menunggu tiba sampai di Sabang, rasanya terlalu sayang bila hanya duduk saja diatas kursi penumpang. Wajar saja bila banyak penumpang yang milih duduk diluar ketimbang nunggu didalam, paling keluarga yang bawa anak kecil, kan sayang kalo panas-panasan diluar. Dan juga mereka yang mabuk perjalanan (pening dan mual-mual), jadinya lebih milih pejam mata duduk di kursi. 
     
    Perjalanan tanpa foto seperti mengunggat tanpa bukti, tidak ada barang bukti yang bisa diperlihatkan, siapa yang akan percaya? begitulah kira-kira :)  Foto itu penting sebagai dokumentasi, suatu saat foto akan menjadi saksi dan pengingat masa yang pernah kita alami. Untuk itu saya dokumentasikan fotonya sebagai barang bukti.

    Inilah dia  my sister, her name Yuna ~,~


    Seminggu ini kk saya punya waktu untuk berlibur, semenjak saya ceritakan pengalaman awal jalan ke kota Sabang bersama teman-teman  organisasi, ia berharap sekali bisa pergi ke Sabang. Ia penasaran dengan keindahan pulau dan pantainya, rasa ingin tahunya semakin memuncak setelah melihat di Sabang.

    Pukul 1 lewat 45 menit kami tiba di kota Pelabuhan Sabang. Berangkat jam 11 siang berarti waktu tempuh kami ada sekitar  2 jam setengah lewat sedikit. Berhubung target libur cuma 2 hari  1 malam, jadi hari pertama kami langsung jalan-jalan ke seluruh penjuru kota sabang. 

    Tiba dikota kami mampir ke salah satu warung nasi, lokasinya pas di pusat kota. Perjalanan belum selesai, jadi makan siang dulu untuk nambah stamina. Melirik waktu yang tersisa rasanya tidak memungkin untuk mengunjungi semua tempat wisata di Sabang, yah itu memang mustahil.

    Apalagi setelah melihat daftar tempat Sabang yang terdiri dari lima pulau, termasuk didalamnya pulau besar dan pulau kecil. Pertama Pulau Weh sebagai pulau terbesar, Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo. Sabang terbagi ke dalam dua kecamatan dan 72 desa. Dan bukan wisata bahari saja dapat ditemukan di Sabang.  Gunung, danau, pantai, laut, serta hutannya, ada banyak tempat yang harus dikunjungi. Sudah pasti tidak  mampu menjangkau semuanya dalam waktu sehari. 
    Usai berkeliling ke beberapa tempat, badan mulai terasa lelah, kami pun memutuskan mencari penginapan. Untuk menikmati indahnya suasana pantai, iboih menjadi pilihan kami. Rasanya belum ke Sabang kalau ngak Iboih. Perjalanan menuju Iboih menghabiskan waktu sekitar 1 jam perjalanan dari kota.

    Beberapa dokumentasi foto di iboih, teupin layeun dan sumur tiga


    Sebelum  sampai di Iboih kita akan melewati obyek wisata Gapang yang hanya berjarak 4 Km dari kota Sabang. Daerah ini juga mempunyai obyek wisata pasir putih yang indah. Disini juga tersedia Cottage untuk disewakan kepada pelancong, tarif sewanya permalam tergantung jenis Cottage. Suasana Gapang akan saya ceritakan nanti di part Perjalanan ketiga ke Sabang. oke!



    Jam setengah 6 kami sudah tiba di Iboih, akhirnya istirahat juga,#Legaa.  Posisi tempat kami menginap pas di pinggir pantai, kebetulan hari itu pengunjungnya sedang sepi, jadinya kami bisa tempati kamar yang berhadapan langsung ke pantai. asiiik :) 

    pemandangan dari teras depan kamar
    Malamnya anak pemilik rumah datang menghampiri kamar kami, namanya Erna. Kami duduk berempat di teras kamar, ngobrol-ngobrol santai. Erna bersama adik ceweknya yang masih sekolah SD sangat baik dan ramah. Sore tadi kami sempat bicara tentang pantai iboih, karena keasikan ngomong alur pembicaraan pun berkembang ntah kemana-mana. Mungkin karena kami cewek dan umur erna pun sebaya, jadinya lebih cepat akrab. 

    Foto kenangan bersama erna teman baruku
    Esok paginya, subuh-subuh buta kami sudah bangun, rencananya sebelum berangkat ke pelabuhan mau menikmati suasana pagi dulu di pinggir pantai sambil mandangi lautan, merasakan sejuknya udara pagi dan desir ombak kecil di iboih. Tanpa terasa waktu terus berjalan, kami tidak bisa berlama-lama lagi. Selepas berpamitan  kepada  orang tua erna selaku pemilik kamar sewa, kami langsung bergegas pergi, khawatir kapal keduluan berangkat. Tak lupa pula pamit  ke teman baru  "Erna", bye bye erna.... byee iboih... 


    Dipersimpangan jalan ada bunga kamboja tumbuh berjejer sepanjang trotoar, ka Yuna minta difotoin. Pantang memang liat yang indah dan cantek sikit pasti langsung minta foto. yaudah deh kita foto-foto lagi. Saya mengingatkan waktu tidak banyak lagi, dan kita harus segera sampai di pelabuhan. Oke, kita lanjutkan lagi perjalanan. Di jalan ada lagi pemandangan bagus, tampak gunung di kelilingi laut, cuaanteek bana. Kali ini saya yang minta berhenti. hehe ..

    Tangan sudah gatal, ngak rela melewatkan begitu saja pemandangan indah itu, terpaksa foto-foto lagi. Sisa waktu semakin menipis.


    Sesampai di Balohan pintu kapal sedang dibuka, tapi apa iya sedang dibuka kadang pun sebaliknya. Dengan sepeda motor kami mendekat ke pinggir pelabuhan melihat dari dekat, Luar biasa memang, #geleng-geleng kepala. Seperti sedang berada dalam adegan film, seakan ada yang mengambil take gambar action, kapal berangkat didepan mata, kami ditinggal pergi dan penumpang di atas kapal melongo pandangannya ke arah kami antara ekpresi kasihan dan ingin tertawa mungkin. haha  :D

    Jarak kapal dengan pelabuhan sedikit lagi, bila coba melompat masih bisa dijangkau tuk naik ke atas kapal. Tapi itu di film, kalo pemainnya seorang pemuda tangguh yang pergi sendiri bukan naik motor. :D


    “Dek.., dek..” terdengar suara sepertinya panggilan itu ditujukan ke kami.
    "Naik kesini aja dek, masih muat ni." Ucap petugas kapal cepat. "Boleh masuk ni pak (kendaraan)?" tanyaku


    "Oh ngak bisa dek, orang aja ni yang bisa." Sahut si bapak. So saya harus ninggalin honda saya gitu disini pak?? Tak ku ucap cuma dihati saja :) 


    “Oh hana pue  pak, kamoe woe singgoeh manteng” (oh tidak apa-apa pak, kami pulang besok saja) jawab ku dengan bahasa Aceh.
    Tak kusangka terhadap apa yang terjadi hari itu, cuma bisa senyum-senyum saja bersama ka Yuna di mushalla Balohan. Suasana sepi balohan sama sepinya perasaan kami. Ketinggalan kapal ternyata tidak hanya kami yang alami, dua keluarga lagi juga mengalami hal serupa. 



    Baiklah karena sudah begini, yah nikmati saja. Berhubung kemarin tidak habis semua lokasi kami kunjungi, hari ini bisa dilanjutkan lagi. Mungkin ini jawaban untuk benar-benar berlibur di pulau Sabang. 

    Setelah sarapan, kami jalan-jalan ke kota dan berhentilah di Sabang Fair. Andaikan hari libur ka Yuna di awal bulan sudah tentu kami bisa menyaksikan Sabang Sea Festival yang diselenggarakan pada tanggal 9 sampai 10 juni 2012 lalu. Untuk pertama kalinya pulau Sabang yang kaya dengan keindahan wisata lautnya, mengambil bagian dalam perayaan hari laut sedunia melalui festival laut sabang  (sabang sea festival). Sabang menjadi salah satu tempat di indonesia bersama Bandung, Bali dan Manado yang akan merayakan hari laut sedunia. 



    Lokasi foto di Sabang Fair
    Matahari tepat bergantung diatas kepala.  Azan zuhur telah berkumandang, kami pun  singgah ke sebuah Mesjid yang terletak di Kota Sabang yang juga merupakan mesjid besar disana. Mesjid Agung Babussalam namanya, mesjid indah  ini terletak di kota atas, bangunannya bergaya arstektur turki, itu menurut saya sih.

    Ukiran  lafadz ayat alquran terukir indah dan rapi. Usai shalat kami menjajakan kaki pusat pertokoan. Banyak pernak-pernik dan baju sabang terpajang di toko. Kami pun memilih 2 baju, satu berwarna pink dan satu lagi berwarna biru. 


    Bentuk Mesjid Agung Babussalam
    Sekedar informasi, ada dua sebutan untuk wilayah kota sabang, karena sabang merupakan kota kecil dan memiliki struktur tanah berbukit-bukit sehingga warga setempat menyebut kota Sabang dengan dua nama yaitu kota bawah dan kota atas.



    Setelah berkeliling kami memutuskan untuk kembali ke Balohan, rencananya malam ini tidur di mushalla. Biar berasa jalan-jalan, nekatkan diri sikit. Berdasarkan informasi yang kami terima, (ceilah seperti repoter saja), sebelumnya juga pernah ada penumpang ketinggalan kapal seperti kami dan tidur dalam mushalla. Jadi tak apalah untuk semalam je. Sebenarnya ini juga terpaksa, mau gimana lagi nominal di saku tak memungkinkan untuk sewa kamar.  

    Malamnya kami duduk makan di warung nasi sekitar balohan, usai makan kami masih duduk di meja makan yang tersusun di luar warung. Ada dua orang wanita duduk disamping kanan meja makan kami, wanita pertama kira-kira umurnya sekitar 45 tahun dan seorang lagi ibu muda bersama seorang anak laki-laki yang masih kecil. Tingkah anaknya itu lucu sekali, saya pun latah memanggilnya.. “adeeek.., sini dek”


    Ntah bagaimana, kemudian ibu paruh baya tadi bergabung duduk satu meja bersama kami. Cerita punya cerita ternyata ibu tersebut orang sekampung. Beliau sudah lama menetap di sabang, karena sudah nyaman dengan usaha berjualan  nasi, beliau pun memilih hidup di sabang. Bila hari raya dan acara besar lainnya barulah ia dan keluarga  pulang kekampung. Ia juga bercerita ada banyak orang kampung tinggal disini. Yah itu memang bukan rahasia umum lagi. Kebanyakan orang Pidie memang merantau, bila kemana-mana pasti mudah mendapati orang Pidie, terutama di pertokoan dan pasar. Coba aja tanya asal dari mana.. :D
    Oke kita kembali ke judul cerita. 

    Karena sudah ditanyakan, kami pun menceritakan kejadian yang kami alami, termasuk rencana tidur di mushalla namun tidak jadi karena ada keluarga yang ketinggalan kapal pagi tadi menawarkan tempat tinggal di penginapannya. Rumahnya selang dua ruko dari warung nasi ibu. Mendengar hal itu, ibu tersebut menawarkan kami tidur di rukonya. Kebetulan ada kamar kosong diatas, biasanya dipakai pegawaiannya untuk istirahat, tapi sekarang ini mereka sering bergadang nonton bola dibawah.


    Jadilah kami tidur dikamar atas itu, kondisi kamarnya berbeda jauh dengan kamar sewa kami di iboih. Beralaskan lantai karpet dan tidak memiliki pintu kamar. Tak apalah, sudah ada tempat tidur malam ini saja sudah syukur sekali, meskipun tampak ngeri-ngeri sedap. Pintu jendela kami biarkan terbuka agar angin bebas masuk kedalam, cahaya lampu yang menyilaukan pun pada akhirnya kami padamkan. Suasana malam ini tidak akan pernah terlupakan. 


    Akhirnya waktu pagi tiba, kami pamitan kepada ibu yang sudah berbaik hati memberi tumpangan malam itu. langit diluar masih gelap beliau sudah berada didapur bersama putrinya memanaskan makanan. Terimakasih bu, ketika sudah begini rasanya bersyukur juga ketinggalan kapal, jadinya bertemu banyak saudara di sabang. 

     
    suasana pagi hari di pelabuhan Balohan

    Tidak seperti kemarin, hari ini kami paling awal tiba di pelabuhan balohan. Tak lama cahayaa matahari semakin terang, orang-orang pun mulai memadati pelabuhan. Kali ini saya berada di deratan motor paling depan. Satu persatu kendaraan memasuki badan kapal, kini giliran mio soul yang telah setia menemani perjalanan kami memasuki gerbang pintu kapal, hanya melalui  gerbang inilah saya bisa kembali ke rumah, bukan dengan pintu kemana saja.

    Mengabadikan foto bersama saat perjalanan kembali ke Banda Aceh
    Alhamdulillah sekarang kami berdiri diatas kapal, tidak lagi kejar-kejaran dengan waktu. Ketika melihat kebawah saya ngebayangi posisi kami kemarin yang duduk diatas honda menangah ke posisi kami sekarang. Sayangnya kami, namun drama itu kini telah berakhir. 2 hari  2 malam di sabang telah menyisakan banyak sekali kejadian seru dan hal-hal tak terduga yang saya alami bersama ka Yuna. Ini pula  perjalanan ‎ terakhir berlibur bersamanya sebelum  ia memutuskan untuk  meninggalkan masa lajangnya. 

    Suasana penumpang duduk di lantai atas kapal
    Begitulah cerita saya berkelana di pulau sabang bersama sang kakak, jangan khawatir bila mengalami hal serupa seperti yang kami alami. Berinteraksi dengan masyarakat setempat akan memberikan pengalaman yang berkesan dan menambah saudara baru. Sampai jumpa lagi sabang ~,~













    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me

    Tak ada kata terlambat untuk belajar, tak ada kata terlambat untuk berbuat baik, tidak ada kata terlambat untuk berubah

    [ Contact ]
    mynamedora25@gmail.com

    Google Facebook Twitter Instagram

    Popular Posts

    • Waspadai lipstik Bermerek tapi kw dan inilah ciri-cirinya
    • Bercermin dari Metamorfosis Kupu-kupu
    • Sejarah Masjid dan Tongkat Po Teumeureuhom di Pidie
    • Sepiring mie china, kuliner nikmat cuma tujuh ribu
    • Nostalgia Bersama Pelajaran IPA SD

    Arsip Blog

    • ▼  2018 (2)
      • ▼  September 2018 (1)
        • ASIAN GAMES 2018 DI INDONESIA BIKIN BANGGA
      • ►  April 2018 (1)
    • ►  2017 (11)
      • ►  October 2017 (2)
      • ►  September 2017 (1)
      • ►  April 2017 (5)
      • ►  March 2017 (1)
      • ►  February 2017 (1)
      • ►  January 2017 (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  April 2016 (1)
      • ►  January 2016 (2)
    • ►  2015 (30)
      • ►  November 2015 (2)
      • ►  October 2015 (2)
      • ►  September 2015 (4)
      • ►  August 2015 (2)
      • ►  July 2015 (2)
      • ►  June 2015 (1)
      • ►  May 2015 (3)
      • ►  March 2015 (5)
      • ►  February 2015 (3)
      • ►  January 2015 (6)
    • ►  2014 (9)
      • ►  May 2014 (1)
      • ►  April 2014 (8)

    Sahabat Blog

    Member of Agam Inong Blogger

    Member of Blogger Perempuan

    Member of Blogger Perempuan

    Aceh Blogger

    Waktu adalah Ibadah

    facebook Twitter instagram pinterest google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top