Beranda

  • Beranda

Zuhra Asra | Lovid this life

    • Home
    • Traveling
    • Lifestyle
    • Culinary
    • Health
    • Kuah Pliek U
    • Review

    Pernahkah melihat kupu-kupu terbang dengan sayap yang indah? Terbang melayang-layang, mengepakkan sayapnya di taman bunga dan hutan dengan gaya yang menawan.  Semua kita pasti suka apalagi anak-anak.

    Ya, siapa yang tidak suka dengan kupu-kupu, sayapnya yang indah, gerak-geriknya yang lincah dan ternyata juga memberi manfaat pada  tanaman yang disinggahinya. Kupu-kupu membantu mempertemukan serbuk sari dengan kepala putik yang siap untuk menjadi buah. 

    Banyak orang menyukai kupu-kupu yang indah, tetapi tidak  jarang juga kita temui orang yang merasa jijik pada ulat, padahal keduanya adalah makhluk yang sama. Bahkan aku pun begitu, geli dan geli sangat  sama yang namanya ulat.

    Dalam pikiran kita ulat memang menjijikkan dan tidak seharusnya ada di taman dimana terdapat tanaman yang indah, keberadaanya dapat merusak tanaman. Namun ulat  pada masanya juga akan merubah dirinya menjadi kepompong. Dalam kepompong ulat melakukan metamorfosis menjadi kupu-kupu indah, menawan dan bermanfaat. Begitu pula proses metamorfosis dalam kehidupan manusia, proses mengubah diri, meningkatkan kualitas menjadi Insan mulia dan bertaqwa. [Hmmm]

    Semua jenis kupu-kupu melalui tahap-tahap hidup mulai dari telur, ulat, kepompong, dan akhirnya bermetamorfosa menjadi kupu-kupu. Pada umumnya kupu-kupu hidup dengan mengisap madu bunga (nektar/ sari kembang). 
    Perubahan wujud makhluk hidup dalam pertumbuhan dan perkembangannya disebut metamorfosis.

    Metamorfosis dibedakan menjadi dua sebagai berikut :
    1. Metamorfosis sempurna, artinya bentuk sebelum dewasa dan sesudah dewasa berbeda. Misalnya kupu-kupu, lalat, nyamuk, dan katak.
    2. Metamorfosis tidak sempurna, artinya bentuk sebelum dewasa dan sesudah dewasa sama. Misalnya belalang, laron, dan pianggang.
    Beginilah  metamorfosi pada kupu-kupu :


    Metamorfosis kupu-kupu



    ► TELUR

    Telur akan menetas antara 3 – 5 hari, larva akan berjalan ke pinggir daun tumbuhan inang dan memulai memakannya. Sebagian larva mengkonsumsi cangkang telur yang kosong sebagai makanan pertamanya Kulit luar dari larva tidak meregang mengikuti pertumbuhannya, tetapi ketika menjadi sangat ketat larva akan berganti kulit.

    LARVA (ULAT)

    ► Setelah menetas larva akan mencari makan Sebagian larva mengkonsumsi cangkang telur yang kosong sebagai makanan pertamanya. Kulit luar dari larva tidak meregang mengikuti pertumbuhannya, tetapi ketika menjadi sangat ketat larva akan berganti kulit.

    ► Jumlah pergantian kulit selama hidup larva umumnya 4 – 5 kali, dan periode antara pergantian kulit (molting) disebut instar.

    ► Larva kupu-kupu bervariasi dalam bentuk, tetapi pada sebagian besar berbentuk silindris, dan terkadang memepunyai rambut, duri, tuberkel atau filamen.

    ► Ketika larva mencapai pertumbuhan maksimal, larva akan berhenti makan, berjalan mencari tempat berlindung terdekat, melekatkan diri pada ranting atau daun dengan anyaman benang. Larva telah memasuki fase prepupa dan melepaskan kulit terakhir kali untuk membentuk pupa.

    Pupa ( kepompong)

    ► Fase pupa kalau dilihat dari luar seperti periode istirahat, padahal di dalam pupa terjadi proses pembentukan serangga yang sempurna. Pupa pada umumnya keras, halus dan berupa suatu struktur tanpa anggota tubuh. Pada umumnya pupa berwarna hijau, coklat atau warna sesuai dengan sekitarnya. (berkamuflase) . Pembentukan kupu-kupu di dalam pupa biasanya berlangsung selama 7 – 20 hari tergantung spesiesnya.

    Kupu-kupu

    ► Setelah keluar dari pupa, kupu-kupu akan merangkak ke atas sehingga sayapnya yang lemah, kusut dan agak basah dapat menggantung ke bawah dan mengembang secara normal. Segera setelah sayap mengering,mengembang dan kuat, sayap akan membuka dan menutup beberapa kali dan percobaan terbang.

    ► Fase imago atau kupu-kupu adalah fase dewasa.


    Membaca fenomenologi metamorfosis kupu-kupu. Pikiran kita akan menemukan cakrawala baru tentang proses luar biasanya. ketika kupu-kupu masih menjadi ulat, mungkin saja membuat kita merasa ngeri, geli, dan mungkin sebagian dari kita bahkan merasa takut. Namun setelah menjadi  kupu-kupu, ia ‘membalasnya” dengan memberi keindahan komposisi warna pada sayap-sayapnya yang indah. 

    Satu hal yang bisa kita ambil, bahwa proses ulat menjadi kupu-kupu merupakan hubungan yang saling melengkapi. ulat belum disebut "sukses" ketika gagal menjadi kupu-kupu. Sementara kupu-kupu tak bisa langsung menjelma dengan segala keindahannya, tanpa menjadi ulat sebelumnya. Kupu-kupu kemudian bersinergi dengan bunga untuk menghasilkan buah dan bunga yang cantik. 

    Secara tidak langsung filosofi tentang kupu-kupu memberi pelajaran, bagaimana menjadi berguna untuk makhluk lain. Hal itu mengajarkan pada kita agar berbuah dan berbagi keindahan bukan untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Berusaha belajar sederhana dari alam, membuat kita selalu ingin menjadi yang baik layaknya kupu-kupu yang ingin  memberikan banyak manfaat untuk orang banyak. 

    Sumber : cr:http://anugrahjuni.wordpress.com/biologi-in/metamorfosis-kupu-kupu/
    http://syuhelmaidi.blogspot.com/2007/08/metamorfosis-ramadhan.html
    Continue Reading


    Ketika membaca beberapa tulisan di Facebook,  saya temukan cerita cukup bagus, kisahnya mengambarkan kondisi yang terjadi kini,  di lingkungan sering saya jumpai jenis orang seperti yang dikisahkan dalam tulisan itu. Baiklah langsung dibaca saja ya tulisan yang saya maksud.

    **Lahiwa Abda namanya. Biasa dipanggil Iwa. Mahasiswa tingkat tiga perguruan tinggi negeri ternama di Ibukota. Tinggal di komplek mewah kawasan Jakarta Selatan. Pergi dan pulang kuliah nyetir mobil sendiri. Lahir dan besar dari keluarga berada. Ekspresi dan penampilannya selalu rapi, bahkan terkesan “licin”. Mungkin itu yang membuatnya mudah dikenal. Apalagi ia memang pandai bergaul dan agak ‘royal’.

    Ada darah agama dalam dirinya. Kakeknya tokoh organisasi Islam terkenal, yang kiprahnya hingga tingkat propinsi di Sumatera. Dan ayahnya, masih mewarisi sebagian darah agama itu. Sejak kecil Iwa mendapat didikan religi. Lumayan. Setidaknya, ia cukup sukses melalui bangku SMA tanpa konflik psikologis yang berarti. Lulus dengan menggembirakan, meski tak hebat-hebat amat.

    Masa-masa awal kuliah mengantarkan Iwa pada dunia baru yang lebih bebas. Syukurnya, kondisi itu tak sampai menggoyahkan kepribadiannya. Namun seiring pencarian jati dirinya sebagai orang muda, Iwa mulai goyah. Tak sadar sebuah proses degradasi secara perlahan terjadi. Pelan, bahkan nyaris tak terasakan. Terlampau banyak ia berguru pada kawan-kawannya yang sangat liberal. Mulai dari pola pikir hingga soal definisi moral yang jungkir balik. Di akhir tingkat tiga kuliahnya, banyak kesalahan fatal telah ia lakukan. Itulah yang mengantarkannya kepada situasi jiwa yang sulit ia jelaskan.

    “Entahlah, saya pun sering bingung dengan diri saya sendiri,” ucapnya dengan tatapan kosong.

    **Gueita, mahasiswi. Susah panggilannya: Giuit. Fakultas dan jurusannya terkait dengan obat. Universitasnya swasta, bonafid dan terpandang. Di kampus, Giuit sangat aktif berdakwah. Karirnya sebagai ‘pejabat’ di organisasi dakwah kampus juga cemerlang. Ia memang sosok pemikir. Tapi kalau diserahi urusan teknis bisa dipastikan berantakan. Sudah beberapa kali pengalaman berbicara. Karena ia lebih cocok menjadi penyumbang gagasan, pengatur strategi, dari pada sebagai pekerja lapangan.

    Itulah kelebihan Giuit, juga mungkin sekaligus kelemahannya. Manusia memang unik. Kadang batas antara kelebihan dan kelemahan sangatlah tipis. Masalahnya, Giuit sulit menyikapi realitas dunia mahasiswa yang banyak bertabrakan dengan keyakinan-keyakinannya. Ia sangat enggan bertegur sapa dengan orang-orang yang tidak sepaham dengan dirinya.

    Mulanya ia beralasan untuk menjaga dirinya, takut larut, katanya. Lama-kelamaan, seiring bertambahnya pengetahuan Giuit tentang Islam, ia lebih menikmati dirinya sendiri. Kadang kala ia mengeluh, karena sulit mentransformasikan dirinya dalam dunia mahasiswa secara umum. Padahal, untuk memperoleh lobi dan dukungan yang kuat semestinya ia juga mengembangkan isu-isu yang mencakup selurut civitas akademika. Setidaknya yang menjadi hajat hidup masyarakat kampus, dari mahasiswanya sampai satpamnya, dari dosen sampai tukang sapunya.

    “Sering juga saya merenung. Tapi tak mudah meredam perang batin yang luar biasa, tatkala realitas yang saya lihat tak seindah idealisme yang saya yakini,” tuturnya.

    Secara tak disengaja telah terbangun dalam pikirannya sebuah stereotipe tentang ukuran baik-buruknya seseorang. Sebagian dari ukuran-ukuran itu memang benar, tetapi tak sedikit pula yang salah. Utamanya ketika ia memaksa menyeragamkan standar keshalihan. Nyaris tak memberi ruang untuk keberagaman. Padahal manusia lahir dengan kemampuan beragam. Maka semestinyalah keshalihan orang beragam pula.

    **Namanya Matenan. Kawan-kawannya sering memanggil Mamat, atau lebih sopannya Bang Mamat. Umurnya masuk kepala empat. Sedikit lagi berkepala lima. Sehari-hari mengayuh sepeda dengan tong-tong berisi tahu. Ia memang pedagang keliling tahu mentah. Mengontrak di kawasan Manggarai. Anaknya tiga, yang tertua kelas tiga SMP. Kawan-kawan Bang Mamat beragam. Dari sebuah desa di Jawa Tengah ia pergi bertujuh ke Jakarta. Empat orang berdagang tahu, sisanya lagi berjualan sayuran.

    Beberapa minggu lalu, Bang Mamat menemukan sebuah tas berwarna hitam. Di dalamnya, ada dompet dengan uang tiga ratus ribu rupiah, kartu identitas, beberapa kartu nama, dan dua pas photo wanita berjilbab. Di tas itu, juga ada beberapa buku catatan, surat-surat berkop sebuah perusahaan, tempat bedak kecil Mustika Ratu, serta handphone.

    Apa yang dilakukan Bang Mamat? Bersusah-payah ia mencari alamat pemilik tas itu. Tiga kali ia datang, dan baru yang ketiganya ia berjumpa dengan pemiliknya. Ternyata seorang muslimah yang photonya ada di dompet itu. Dengan tegar, ia kembalikan semua barang-barang itu. Seorang tetangganya sudah menawar setengah juta untuk handphone itu. Tetapi Bang Mamat tetap gigih. Ia mencoba mengajarkan kejujuran kepada kawan-kawannya. Meski untuk itu tidaklah mudah.

    “Ini bukan milik saya, saya harus kembalikan kepada yang punya,” begitu kenangnya.

    Ketika mengembalikan tas itu, ia ditemani anak tertuanya. Nampaknya ia juga hendak mengajarkan kejujuran kepada anaknya itu. Kala wanita pemilik tas itu hendak memberinya tanda terima kasih, Bang Mamat bersikeras menolak. “Biarlah Allah yang membalas. Mbak doakan saya saja,” begitu jawabnya. Akhimya pemilik tas itu memaksa anak Bang Mamat untuk mau menerima tanda terima kasihnya.

    Tidak mudah memang, bergaul dengan kehidupan masyarakat yang sangat beragam. Apalagi bila pada saat yang sama kita juga dituntut tetap eksis, survive, dan tetap istiqomah. Ibarat berenang di air asin, kita seperti berjuang untuk bisa mengapung dan tidak tenggelam, karena di situlah letak kehidupan kita. Tetapi pada saat yang sama kita dituntut bagaimana tidak turut menjadi asin.

    Logika ini berlaku untuk setiap muslim, untuk setiap aktifis dakwah, juga untuk setiap orang yang ingin menyeimbangkan antara eksistensi dirinya sebagai muslim dengan eksistensinya sebagai makhluk sosial. Menyeimbangkan antara tuntutan dirinya sebagai hamba Allah dengan tuntutan dirinya sebagai anggota masyarakat. Baik masyarakat kecil di keluarganya, masyarakat sedang di lingkungannya, atau masyarakat besar di dunia ini. Ya, itu merupakan tuntutan menyeimbangkan antara idealita dan realita. Karena alam realita memiliki sunnahnya sendiri, sebagaimana alam idealisme memiliki sunnahnya sendiri.

    Logika ini juga berlaku bagi komunitas apa pun, bagi sebuah golongan seperti apa pun. Apalagi bagi sebuah organisasi dakwah atau jama’ah dakwah. Itu pula yang mengantarkan kita kepada logika bahwa dunia ini sangat beragam isinya. Di tengah keberagamannya itu kita hidup. Agama ini juga tidak mengajarkan agar kita membangun sebuah ekslusivisme yang sempit. Kalaulah itu yang dimaksud Allah dalam penciptaan manusia ini, tentu apa arti firman-Nya yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa dan bersuku untuk saling mengenal.

    Keberagaman isi dunia menjadi sunnah tersendiri bagi kehidupan ini. Ia semacam ekosistem yang saling kait mengait, tunjang-menunjang, dukung-mendukung. Orang miskin ada untuk menjadi tempat bersedekah bagi orang kaya. Orang bodoh ada untuk tempat beramal bagi orang-orang pintar. Orang besar ada untuk membantu orang-orang kecil. Manusia, dengan beragam suku, bangsa, ras, bahasa, budaya, dan cita rasanya, adalah khazanah kehidupan yang niscaya ada.

    Hanya saja, seperti kisah tiga orang di atas, Iwa, Giuit, dan Bang Mamat, seperti itu pula kira-kira tipologi seorang muslim dalam berinteraksi dengan belantara kehidupan dunia ini. Ada yang luntur dan lebur, ada yang teguh tetapi mengambil jalan yang kurang bijak: menutup diri dan lebih suka pada klaim-klaim. Dan, yang ketiga, mereka yang tetap tegar di tengah kondisi apa pun.

    Segalanya berpulang kepada kita masing-masing. Karena tuntutan Allah agar kita menjaga diri dari api neraka, misainya, juga diiringi dengan perintah menjaga keluarga: masyarakat terkecil kita. Dalam lingkup masyarakat yang lebih besar, Allah mengancam orang-orang yang masa bodoh dengan kondisi masyarakat yang rusak. Kelak, bila Allah menurunkan adzab-Nya, orang-orang baik yang tak peduli dengan kerusakan itu justru yang pertama diadzab.

    Kita memang harus berbaur dengan masyarakat, tetapi tidak melebur dalam kerusakan mereka. Wallahu ‘alam bishawab.

    Sumber: Tarbawi Edisi 13 Th. 2 Oktober 2000 M/2 Sya’ban 1421 H

    Continue Reading
    Ada yang tau ini siapa ? Nama lengkapnya adalah Derek Anthony Redmond , pria ini bukanlah seorang aktor ataupun penyanyi . Derek alah atlit lari dari Inggris, pemegang rekor nasional Inggris untuk lari 400 meter, memenangkan medali emas untuk lari estafet 4×400 meter pada Kejuaraan Dunia, Kejuaraan Eropa dan Pekan Olahraga antar negara Commonwealth. Pada olimpiade Barcelona 1992, dia adalah kandidat juara lari 400 meter.
      
    Pada tahun 1992 , kisahnya banyak dikagumi dan menjadi insipari untuk orang banyak. tidak heran bila Videonya paling sering diputar pada acara seminar dan marketing dari perusahaan yang menyelenggarakannya. saya juga tahu kisah ini saat menghadiri seminar marketing.

    Kisahnya terjadi pada olimpiade musim panas di Barcelona tahun 1992. Derek Redmond mulai berlari, namun larinya terhenti pada 150meter. Derek jatuh karena cedera hamstring. Derek terisak-isak. Ia terkapar di arena lari.

    Coba tebak apa yang derek lakukan ? Ia tidak meninggalkan arena lari , ia berdiri tegap , dan melanjutkan perlombaanya dengan menahan rasa sakit di kakinya. Derek mulai berjalan terpincang pincang. Beberapa official mendekatinya dan menyuruhnya berhenti, namun ia tidak menggubrisnya. Ia terus berlari

    Tiba-tiba saja datang seorang pria , menerobos halangan security , dan berlari ke arah derek.Ia pun segera merangkul derek.

    lihat video dokumenternya disini :




    Ia mengatakan, “Nak, sebaiknya kamu berhenti. Tidak mungkin kamu bisa menang..”
    Derek menjawab, “Tidak. Aku harus berlari sampai finish.”
    Orang itu berkata lagi, “Baiklah. Mari kita berlari bersama. Ulurkan tanganmu ke pundakku…”
    Demikianlah, mereka berdua berlari sepanjang lintasan, sampai garis finish.


    Coba tebak , siapa pria yang dengan tulus berlalri menyampiri derek dan merangkulnya ? Pria itu bukanlah fans derek , ataupun officialnya . Pria tersebut tak lain adalah ayah derek sendiri , Jim Redmond.




    Kegigihan Derek memukau penonton saat itu. Meskipun Derek didiskualifikasi dari lomba, 65.000 penonton melakukan standing ovation pada saat ia memasuki garis finish. Derek kalah dari lomba, namun ia memenangkan hati penonton. Dia mengalahkan rasa sakitnya, dan memenangkan lomba untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang yang mendukung dan menolongnya sepenuh hati.



    sumber : http://olahraga.kompasiana.com/atletik/2012/08/03/kisah-inspiratif-derek-redmon-476257.html 
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me

    Tak ada kata terlambat untuk belajar, tak ada kata terlambat untuk berbuat baik, tidak ada kata terlambat untuk berubah

    [ Contact ]
    mynamedora25@gmail.com

    Google Facebook Twitter Instagram

    Popular Posts

    • Waspadai lipstik Bermerek tapi kw dan inilah ciri-cirinya
    • Bercermin dari Metamorfosis Kupu-kupu
    • Sejarah Masjid dan Tongkat Po Teumeureuhom di Pidie
    • Sepiring mie china, kuliner nikmat cuma tujuh ribu
    • Nostalgia Bersama Pelajaran IPA SD

    Arsip Blog

    • ▼  2018 (2)
      • ▼  September 2018 (1)
        • ASIAN GAMES 2018 DI INDONESIA BIKIN BANGGA
      • ►  April 2018 (1)
    • ►  2017 (11)
      • ►  October 2017 (2)
      • ►  September 2017 (1)
      • ►  April 2017 (5)
      • ►  March 2017 (1)
      • ►  February 2017 (1)
      • ►  January 2017 (1)
    • ►  2016 (3)
      • ►  April 2016 (1)
      • ►  January 2016 (2)
    • ►  2015 (30)
      • ►  November 2015 (2)
      • ►  October 2015 (2)
      • ►  September 2015 (4)
      • ►  August 2015 (2)
      • ►  July 2015 (2)
      • ►  June 2015 (1)
      • ►  May 2015 (3)
      • ►  March 2015 (5)
      • ►  February 2015 (3)
      • ►  January 2015 (6)
    • ►  2014 (9)
      • ►  May 2014 (1)
      • ►  April 2014 (8)

    Sahabat Blog

    Member of Agam Inong Blogger

    Member of Blogger Perempuan

    Member of Blogger Perempuan

    Aceh Blogger

    Waktu adalah Ibadah

    facebook Twitter instagram pinterest google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top